Popular Posts

What’s Hot



C. Enam Strategi Pencapaian Perubahan Pada SD Negeri Inklusi Banjang 2
Strategi Mencapai Perubahan
Pelaksanaan manajemen perubahan dapat dilakukan dengan berbagai teknik  atau strategi sebagaimana dikemukakan dalam bahan ajar Manajemen Kepemimpinan Sekolah (2014:13)[1] seperti berikut :
a.       Pendidikan dan Komunikasi.
1)      Teknik/strategi yang diberikan dengan memberikan penjelasan secara tuntas tentang latar belakang, tujuan, dan akibat adanya perubahan.
2)      Mengomunikasikan berbagai perubahan dalam bebagai bentuk dan kesempatan, ini digunakan bila ada kekurangan atau ketidaktepatan informasi dan analisis
 b. Partisipasi.
Teknik yang digunakan dengan mengajak semua pihak untuk mengambil keputusan. Pimpinan hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Hal ini digunakan bila inisiator tidak mempunyai informasi yang dibutuhkan untuk merancang perubahan dan sedangkan orang lainnya mempunyai kekuasaan untuk menolak.
c. Memberikan kemudahan dan dukungan.
     Jika pegawai takut atau cemas, lakukan konsultasi atau bahkan terapi. Beri keterampilan yg mempermudah dan mendukung proses perubahan. Taktik ini digunakan bila penolakan berkembang sebagai hasil ketidakmampuan adaptasi.
d. Negosiasi dan persetujuan
Membangun inisiatif perubahan dengan bersedia menyesuaikan perubahan dengan kebutuhan dan kepentingan para penolak aktif atau potensial. Cara ini biasa dilakukan jika yang menentang mempunyai kekuatan yang cukup besar.
e. Manipulasi dan Kooptasi.
Manipulasi adalah menutupi kondisi yang sesungguhnya. Misalnya memelintir (twisting) fakta agar tampak lebih menarik, tidak mengutarakan hal yang negatif, dsb. Kooptasi dilakukan dengan cara memberikan kedudukan penting kepada pimpinan penentang perubahan dalam mengambil keputusan. Teknik ini digunakan bila taktik lain tidak akan berhasil atau mahal.
f. Paksaan.
1)      Berikan ancaman dan jatuhkan hukuman bagi siapapun yang menentang dilakukannya perubahan.
2)      Bila kecepatan adalah esensial, dan inisiator perubahan mempunyai kekuasaan cukup besar.
3)      Mengelola Perubahan Sekolah

Dalam konteks pencapaian perubahan pada SD Negeri Banjang 2 kepala sekolah mengadopsi Model Perubahan Kurt Lewin dan ADKAR. Upaya  tersebut dilakukan untuk mengatasi kesenjangan sekolah melalui modifikasi enam strategi pencapaian perubahan terhadap kesiapan SD Negeri Inklusi Banjang 2 sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang berbasis kurikulum 2013 sebagai kurikulum mutakhir.  Keenam strategi pencapaian perubahan tersebut dicoba diterjamahkan dalam bentuk strategi yang paling relevan yaitu seperti digambarkan pada tabel berikut:

KONSEP
STRATEGI
IMPLEMENTASI STRATEGI
Pendidikan dan Komunikasi
ð       Mars Banjang 2 suplemen Visi sekolah;
ð       In House Training (IHT);
ð       Penulisan Artikel dan  Buku-Buku bertema edukasi, religi, pluralisme dan motivasi.
Partisipasi
ð       Pendelegasian Wewenang seperti Pembantu Kepala Sekolah Bidang, Mengirim utusan pada Rapat Dinas Sekolah;
ð       Optimalisasi peran serta Komite sekolah dan pelibatan wakil orang tua non komite;
Memberi kemudahan dan dukungan
ð       Fasilitas Program S1 PLB Unlam;
ð       Menyiapkan tenaga operator dan arsiparis sekolah;
ð       Fasilitas Program S1 Sendratasik;
ð       Fasilitas Pembinaan dan Pengembangan Minat dan Bakat Siswa;
ð       Fasilitas Bantuan Biaya Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
ð       Fasilitas Guru Berprestasi;
ð       TKB Mandiri sebagai wadah pendampingan lulusan yang rentan putus sekolah
Negoisasi dan Persetujuan
ð       Ijin opresional penyelenggaraan pendidikan inklusif;
ð       Kompromi setiap kali terjadi benturan
Manipulasi dan Kooptasi
ð       Sosialisasi pada forum rapat dinas sekolah; dan
ð       Forum K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah)
Paksaan
ð       Regulasi sekolah berupa hasil keputusan sekolah yang mengikat tetapi tidak menjerat, membalut tetapi tidak membelit; dan membangun suasana kekeluargaan yang menghangatkan;
ð       Mempelopori perubahan; contoh dan taladan (kepala sekolah melakukan terlebih dahulu).
ð       Melibatkan guru yang berstatus mahasiswa dari kepala sekolah pada beberapa program Prodi Pendas, Prodi PAI, Prodi Kearsipan.



[1] Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah. Bahan Ajar Bagian I (KS-01) Manajemen Perubahan Implementasi Kurikulum 2013 Bagi Kepala Sekolah. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2014:13

C. Enam Strategi Pencapaian Perubahan Pada SD Negeri Inklusi Banjang 2



C. Enam Strategi Pencapaian Perubahan Pada SD Negeri Inklusi Banjang 2
Strategi Mencapai Perubahan
Pelaksanaan manajemen perubahan dapat dilakukan dengan berbagai teknik  atau strategi sebagaimana dikemukakan dalam bahan ajar Manajemen Kepemimpinan Sekolah (2014:13)[1] seperti berikut :
a.       Pendidikan dan Komunikasi.
1)      Teknik/strategi yang diberikan dengan memberikan penjelasan secara tuntas tentang latar belakang, tujuan, dan akibat adanya perubahan.
2)      Mengomunikasikan berbagai perubahan dalam bebagai bentuk dan kesempatan, ini digunakan bila ada kekurangan atau ketidaktepatan informasi dan analisis
 b. Partisipasi.
Teknik yang digunakan dengan mengajak semua pihak untuk mengambil keputusan. Pimpinan hanya bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Hal ini digunakan bila inisiator tidak mempunyai informasi yang dibutuhkan untuk merancang perubahan dan sedangkan orang lainnya mempunyai kekuasaan untuk menolak.
c. Memberikan kemudahan dan dukungan.
     Jika pegawai takut atau cemas, lakukan konsultasi atau bahkan terapi. Beri keterampilan yg mempermudah dan mendukung proses perubahan. Taktik ini digunakan bila penolakan berkembang sebagai hasil ketidakmampuan adaptasi.
d. Negosiasi dan persetujuan
Membangun inisiatif perubahan dengan bersedia menyesuaikan perubahan dengan kebutuhan dan kepentingan para penolak aktif atau potensial. Cara ini biasa dilakukan jika yang menentang mempunyai kekuatan yang cukup besar.
e. Manipulasi dan Kooptasi.
Manipulasi adalah menutupi kondisi yang sesungguhnya. Misalnya memelintir (twisting) fakta agar tampak lebih menarik, tidak mengutarakan hal yang negatif, dsb. Kooptasi dilakukan dengan cara memberikan kedudukan penting kepada pimpinan penentang perubahan dalam mengambil keputusan. Teknik ini digunakan bila taktik lain tidak akan berhasil atau mahal.
f. Paksaan.
1)      Berikan ancaman dan jatuhkan hukuman bagi siapapun yang menentang dilakukannya perubahan.
2)      Bila kecepatan adalah esensial, dan inisiator perubahan mempunyai kekuasaan cukup besar.
3)      Mengelola Perubahan Sekolah

Dalam konteks pencapaian perubahan pada SD Negeri Banjang 2 kepala sekolah mengadopsi Model Perubahan Kurt Lewin dan ADKAR. Upaya  tersebut dilakukan untuk mengatasi kesenjangan sekolah melalui modifikasi enam strategi pencapaian perubahan terhadap kesiapan SD Negeri Inklusi Banjang 2 sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif yang berbasis kurikulum 2013 sebagai kurikulum mutakhir.  Keenam strategi pencapaian perubahan tersebut dicoba diterjamahkan dalam bentuk strategi yang paling relevan yaitu seperti digambarkan pada tabel berikut:

KONSEP
STRATEGI
IMPLEMENTASI STRATEGI
Pendidikan dan Komunikasi
ð       Mars Banjang 2 suplemen Visi sekolah;
ð       In House Training (IHT);
ð       Penulisan Artikel dan  Buku-Buku bertema edukasi, religi, pluralisme dan motivasi.
Partisipasi
ð       Pendelegasian Wewenang seperti Pembantu Kepala Sekolah Bidang, Mengirim utusan pada Rapat Dinas Sekolah;
ð       Optimalisasi peran serta Komite sekolah dan pelibatan wakil orang tua non komite;
Memberi kemudahan dan dukungan
ð       Fasilitas Program S1 PLB Unlam;
ð       Menyiapkan tenaga operator dan arsiparis sekolah;
ð       Fasilitas Program S1 Sendratasik;
ð       Fasilitas Pembinaan dan Pengembangan Minat dan Bakat Siswa;
ð       Fasilitas Bantuan Biaya Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
ð       Fasilitas Guru Berprestasi;
ð       TKB Mandiri sebagai wadah pendampingan lulusan yang rentan putus sekolah
Negoisasi dan Persetujuan
ð       Ijin opresional penyelenggaraan pendidikan inklusif;
ð       Kompromi setiap kali terjadi benturan
Manipulasi dan Kooptasi
ð       Sosialisasi pada forum rapat dinas sekolah; dan
ð       Forum K3S (Kelompok Kerja Kepala Sekolah)
Paksaan
ð       Regulasi sekolah berupa hasil keputusan sekolah yang mengikat tetapi tidak menjerat, membalut tetapi tidak membelit; dan membangun suasana kekeluargaan yang menghangatkan;
ð       Mempelopori perubahan; contoh dan taladan (kepala sekolah melakukan terlebih dahulu).
ð       Melibatkan guru yang berstatus mahasiswa dari kepala sekolah pada beberapa program Prodi Pendas, Prodi PAI, Prodi Kearsipan.



[1] Pusat Pengembangan Tenaga Kependidikan, Manajemen dan Kepemimpinan Sekolah. Bahan Ajar Bagian I (KS-01) Manajemen Perubahan Implementasi Kurikulum 2013 Bagi Kepala Sekolah. Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pendidikan Dan Penjaminan Mutu Pendidikan Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan, 2014:13




B.    Memaknai Perubahan, Tujuan, Manfaat dan Strategi Pencapaiannya.
“Tuhan tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka.” Terjemahan ayat Allah yang kita temukan dalam Qur’an Surah Ar-Ra’d [13]:11 menjadi spirit perubahan ini. Jika Tuhan saja melarang Diri-Nya yang Maha Berkehendak melakukan perubahan dengan kekuasaan-Nya yang Agung, ini berarti kita diberi kesempatan untuk menentukan perubahan dengan mencurahkan segenap kemampuan dan ini sebuah kehormatan sebagai hamba. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada-Nya karena sudah bukan merupakan wilayah kita lagi, biarkanlah kehendak-Nya yang menentukan.
Perubahan dapat terjadi pada masa transisi dari kondisi lama menuju kondisi baru. Perubahan dapat pula terjadi pada hal baru atau sesuatu menjadi berbeda.  Perubahan itu sendiri menurut Sedarmayanti (2013:81) dapat dilihat dalam dua bentuk yaitu perubahan strategi dan perubahan operasional. Perubahan strategi terjadi dalam konteks persaingan eksternal, lingkungan ekonomi dan sosial, serta sumber daya internal organisasi, kapabilitas, budaya, struktur dan sistem.  Pencapaian akhir dari keun ggulan kompetitif yang berkelanjutan terletak pada kualitas. Perubahan operasional berkaitan dengan sistem, prosedur, struktur atau teknologi baru yang akan mempengaruhi dengan segera pengelolaan pekerjaan suatu bagian organisasi. Kemudian Sedarmayanti (2013:81) lebih lanjut menjelaskan bahwa proses perubahan dimulai dengan suatu pengetahuan akan kebutuhan untuk berubah.  Analisis dari situasi dan faktor yang menciptakan situasi membawa kepada diagnosis mengenai karakteristik yang membedakan dan indikasi arah dimana tindakan perlu dilakukan dan oleh karena itu strategi perubahan perlu dilakukan.
Menangkap isyarat upaya perubahan dengan masalah yang dihadapi penulis merasa perlu berpikir realistis.  Hal yang menjadi pertimbangan adalah bentuk-bentuk penolakan yang mungkin saja terjadi model-model perubahan yang akan dipilih untuk mengatasinya. Menurut Sedarmayanti (2013:82) penolakan untuk berubah bisa terjadi secara spesifik, dalam bentuk alasan-alasan penolakan sebagai berikut:
1.      Keterkejutan akan hal baru;
2.      Ketakutan ekonomis;
3.      Gangguan;
4.      Ketidakpastian;
5.      Ketakutan simbolik;
6.      Ancaman kepada hubungan interpersonal;
7.      Ancaman terhadap status atau keterampilan;
8.      Ketakutan kompetensi.
Mengatasi penolakan untuk berubah tersebut yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah menggunakan pola interaksi dan komunikasi. Baik kepada semua guru, tenaga kependidikan, penjaga sekolah, komite sekolah, orang tua siswa dan peserta didik secara hati-hati, dipesiapkan dan hargai, sehingga segala bentuk atau alasan penolakan tersebut dapat dihilangkan. Diantara penolakan yang sering muncul adalah ketakutan kompetensi dengan munculnya pernyataan:
ð       “Mendidik anak yang normal saja sulitnya bukan main apalagi mendidik anak yang cacat!”;
ð       “Jangan-jangan guru dan anak-anak yang jadi “menyiman’’ (bahasa daerah Banjar artinya tertular secara psikologis/ikut-ikutan tanpa disadari);
ð       “Sikap tidak mau tahu dari guru menjawab pertanyaan masyarakat tentang ABK dan Sekolah Inklusi.”
ð       “Semoga tidak lulus seleksi program PLB nanti,” (terjadi ketika 9 orang GTT/guru tidak tetap difasilitasi mengikuti program S1 PLB);
ð       “Kekeliruan persepsi tentang ABK, sekolah Inklusi dan SLB”
ð       Bersifat gangguan berupa alasan-alasan dan keluhan ketidakhadiran maupun keterlambatan ke sekolah seperti urusan pribadi, kesehatan dan bahkan masalah rumah tangga. 
Tujuan Perubahan
Tujuan Manajemem Perubahan adalah mengupayakan agar proses transformasi berlangsung dalam waktu yang relatif cepat dengan kesulitan-kesulitan yang seminimal mungkin, bersikap positif terhadap perubahan (mengurangi resistensi), meningkatnya daya inisiatif dalam melakukan perubahan, meningkatnya motivasi, berinsiatif dengan harapan yang tinggi. Dengan demikian, jika manajemen perubahan ini dikelola dengan baik, yaitu direncanakan dengan matang, dilaksanakan sesuai program, serta dievaluasi, maka akan sangat bermanfaat bagi sekolah dan seluruh warga sekolah, serta bagi warga masyarakat sebagai pengguna pendidikan.
Manfaat Perubahan

Manfaat perubahan diantaranya adalah sebagai berikut :
1)      Sekolah mampu beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan internal maupun eksternal untuk pembangunan berkelanjutan dan menjadikan sekolah yang efektif.
2)      Sekolah mampu berprestasi dan dapat meningkatkan kemampuan guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan.
3)      Dapat menjaga iklim di sekolah menjadi lebih terbuka dan jujur warga sekolah sekolah merasa puas dan bangga.
4)      Pola pemeliharaan dapat mempertahankan loyalitas dan membuat seseorang menjadi kebanggaan di sekolah mereka sendiri. Ini merupakan tradisi yang baik untuk membuat seseorang ingin menjadi orang yang terbaik.

B. Memaknai Perubahan, Tujuan, Manfaat dan Strategi Pencapaiannya.



B.    Memaknai Perubahan, Tujuan, Manfaat dan Strategi Pencapaiannya.
“Tuhan tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan mereka.” Terjemahan ayat Allah yang kita temukan dalam Qur’an Surah Ar-Ra’d [13]:11 menjadi spirit perubahan ini. Jika Tuhan saja melarang Diri-Nya yang Maha Berkehendak melakukan perubahan dengan kekuasaan-Nya yang Agung, ini berarti kita diberi kesempatan untuk menentukan perubahan dengan mencurahkan segenap kemampuan dan ini sebuah kehormatan sebagai hamba. Sedangkan hasilnya kita serahkan kepada-Nya karena sudah bukan merupakan wilayah kita lagi, biarkanlah kehendak-Nya yang menentukan.
Perubahan dapat terjadi pada masa transisi dari kondisi lama menuju kondisi baru. Perubahan dapat pula terjadi pada hal baru atau sesuatu menjadi berbeda.  Perubahan itu sendiri menurut Sedarmayanti (2013:81) dapat dilihat dalam dua bentuk yaitu perubahan strategi dan perubahan operasional. Perubahan strategi terjadi dalam konteks persaingan eksternal, lingkungan ekonomi dan sosial, serta sumber daya internal organisasi, kapabilitas, budaya, struktur dan sistem.  Pencapaian akhir dari keun ggulan kompetitif yang berkelanjutan terletak pada kualitas. Perubahan operasional berkaitan dengan sistem, prosedur, struktur atau teknologi baru yang akan mempengaruhi dengan segera pengelolaan pekerjaan suatu bagian organisasi. Kemudian Sedarmayanti (2013:81) lebih lanjut menjelaskan bahwa proses perubahan dimulai dengan suatu pengetahuan akan kebutuhan untuk berubah.  Analisis dari situasi dan faktor yang menciptakan situasi membawa kepada diagnosis mengenai karakteristik yang membedakan dan indikasi arah dimana tindakan perlu dilakukan dan oleh karena itu strategi perubahan perlu dilakukan.
Menangkap isyarat upaya perubahan dengan masalah yang dihadapi penulis merasa perlu berpikir realistis.  Hal yang menjadi pertimbangan adalah bentuk-bentuk penolakan yang mungkin saja terjadi model-model perubahan yang akan dipilih untuk mengatasinya. Menurut Sedarmayanti (2013:82) penolakan untuk berubah bisa terjadi secara spesifik, dalam bentuk alasan-alasan penolakan sebagai berikut:
1.      Keterkejutan akan hal baru;
2.      Ketakutan ekonomis;
3.      Gangguan;
4.      Ketidakpastian;
5.      Ketakutan simbolik;
6.      Ancaman kepada hubungan interpersonal;
7.      Ancaman terhadap status atau keterampilan;
8.      Ketakutan kompetensi.
Mengatasi penolakan untuk berubah tersebut yang dilakukan oleh kepala sekolah adalah menggunakan pola interaksi dan komunikasi. Baik kepada semua guru, tenaga kependidikan, penjaga sekolah, komite sekolah, orang tua siswa dan peserta didik secara hati-hati, dipesiapkan dan hargai, sehingga segala bentuk atau alasan penolakan tersebut dapat dihilangkan. Diantara penolakan yang sering muncul adalah ketakutan kompetensi dengan munculnya pernyataan:
ð       “Mendidik anak yang normal saja sulitnya bukan main apalagi mendidik anak yang cacat!”;
ð       “Jangan-jangan guru dan anak-anak yang jadi “menyiman’’ (bahasa daerah Banjar artinya tertular secara psikologis/ikut-ikutan tanpa disadari);
ð       “Sikap tidak mau tahu dari guru menjawab pertanyaan masyarakat tentang ABK dan Sekolah Inklusi.”
ð       “Semoga tidak lulus seleksi program PLB nanti,” (terjadi ketika 9 orang GTT/guru tidak tetap difasilitasi mengikuti program S1 PLB);
ð       “Kekeliruan persepsi tentang ABK, sekolah Inklusi dan SLB”
ð       Bersifat gangguan berupa alasan-alasan dan keluhan ketidakhadiran maupun keterlambatan ke sekolah seperti urusan pribadi, kesehatan dan bahkan masalah rumah tangga. 
Tujuan Perubahan
Tujuan Manajemem Perubahan adalah mengupayakan agar proses transformasi berlangsung dalam waktu yang relatif cepat dengan kesulitan-kesulitan yang seminimal mungkin, bersikap positif terhadap perubahan (mengurangi resistensi), meningkatnya daya inisiatif dalam melakukan perubahan, meningkatnya motivasi, berinsiatif dengan harapan yang tinggi. Dengan demikian, jika manajemen perubahan ini dikelola dengan baik, yaitu direncanakan dengan matang, dilaksanakan sesuai program, serta dievaluasi, maka akan sangat bermanfaat bagi sekolah dan seluruh warga sekolah, serta bagi warga masyarakat sebagai pengguna pendidikan.
Manfaat Perubahan

Manfaat perubahan diantaranya adalah sebagai berikut :
1)      Sekolah mampu beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungan internal maupun eksternal untuk pembangunan berkelanjutan dan menjadikan sekolah yang efektif.
2)      Sekolah mampu berprestasi dan dapat meningkatkan kemampuan guru dan peserta didik untuk mencapai tujuan.
3)      Dapat menjaga iklim di sekolah menjadi lebih terbuka dan jujur warga sekolah sekolah merasa puas dan bangga.
4)      Pola pemeliharaan dapat mempertahankan loyalitas dan membuat seseorang menjadi kebanggaan di sekolah mereka sendiri. Ini merupakan tradisi yang baik untuk membuat seseorang ingin menjadi orang yang terbaik.



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Kepemimpinan Kepala Sekolah Sebagai Pelopor Perubahan
Tidak ada rumus sederhana yang dapat menjamin keberhasilan sebagai seorang pemimpin. Kepemimpinan adalah keterampilan yang membutuhkan kapasitas, dedikasi, dan pengalaman (yang berarti waktu untuk hidup dan belajar) demikian Robert P.Neuschel (2008:15) membuka bahasannya dalam buku The Servant Leader,”Pemimpin yang Melayani.” Namun kepala sekolah sebagai pelopor perubahan dalam mengembangkan potensi belajar peserta didik. Penulis memilih jalur yang lebih sederhana bahwa setiap anak layak hidup layak karena mereka terlahir membawa potensi sebagai aset untuk hidup bahagia. Setiap anak terlahir berbakat, cerdas, istimewa, unik dan berhak untuk bahagia.  Jolene L.Roehlkepartain & Nancy Leffert (2005:351) dalam buku “What Young Children Need to Succeed,” edisi terjemah mengatakan ada tiga langkah sederhana dalam mengembangkan aset anak-anak yaitu Pertama, pastikan anak-anak layak memperoleh perhatian dan kepedulian Anda; Kedua, membuat komitmen dimulai dari hal yang kecil dan sederhana; Ketiga, bertindak, putuskan untuk dilakukan.
“Kepemimpinan penting selama masa perubahan,” kalimat penting yang ditemukan dalam buku,”Kecakapan Berpikir Bagi Pemimpin,” karya Bill Welter dan Jean Egmon (2009:19-20) dan menurut mereka ada tiga sudut pandang tentang kepemimpinan yang dihormati yaitu, pertama, kepemimpinan ditunjukkan dengan tindakan bukan kata-kata; kedua, kepemimpinan ada dalam hubungan saling percaya dengan para pengikut; ketiga,pemimpin tahu tujuan mereka dan organisasi mereka.
Aset pemimpin yang paling penting menurut Bill Welter dan Jean Egman (2009) pada bagian sampul bukunya,”The Prepared Mind of a Leader” (Kecakapan Berpikir Bagi Pemimpin) adalah kemampuan mengantisipasi perubahan di lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan itu secara cepat. Dari pernyataan Walter dan Egman kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa hal terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan yang efektif untuk berpikir fleksibel tentang sebuah perubahan baik dalam konteks transisi maupun inovasi. Kemampuan memilih strategi untuk mengatasi masalah dan pengambilan keputusan dalam menuju perubahan. Melakukan sedikit perubahan untuk menghasilkan perubahan yang berdampak lebih besar yakni perubahan mindset (sikap mental) dan mind scape serta prepared mind (siap pikiran dan mental). Bill Welter & Jean Egmon (2009:1) meyakini bahwa prepared mind bukan soal perubahan saja/kesempatan saja, tetapi ini soal persiapan yang disengaja.
Kualitas serta tingkat terbaik kinerja kepemimpinan menurut Robert P.Neuschel (2008:99) ada sejumlah elemen karakter dan kepribadian  yang bersifat bawaan dan mendasar seperti daya tahan, integritas, motivasi, keinginan, tanggung jawab, dan kepekaan alamiah terhadap orang lain. Inilah menurut Neuschel yang menjadi fondasi membangun kepemimpinan. Selanjutnya pada bagian akhir pembahasan pemimpin bawaan dan bentukan Neuschel (2008:103) menyatakan bahwa sedikit yang benar-benar merupakan pemimpin yang berbakat alami. Sebagian besar manajer/pemimpin dibentuk oleh peristiwa dan kebutuhan. Neuschel dalam analisis finalnya mengemukakan buah pikiran bahwa orang paling banyak belajar menjadi pemimpin dengan pemimpin dan sebagian besar tindakannya diciptakan sendiri.
Neuchel (2008:91) mensyaratkan pemimpin sebagai pengelola hebat atas perubahan dan keadaan yang tidak stabil. Pemimpin harus berada di depan untuk mendukung perubahan dan pertumbuhan serta menunjukkan jalan guna mengadakan perubahan. Ada dua persyaratan penting untuk membawa perubahan menurut Neuschel yaitu Pertama mengetahui persyaratan teknis dan kedua memahami tuntutan yang terkait dengan sikap dan motivasi untuk melaksanakan perubahan itu. Neuschel menekankan bahwa salah satu perubahan besar yang dihadapi oleh manajer/pemimpin adalah mampu mengenali dan membawa perubahan yang penting secara efektif.
Manajemen perubahan adalah proses pengelolaan sumber daya untuk membawa keadaan sekarang ini menuju keadaan baru yang diharapkan. Kalau dikaitkan dengan sekolah, maka dapat dinyatakan bahwa, manajemen perubahan sekolah adalah proses pengelolaan sumber daya sekolah untuk membawa keadaan sekolah sekarang, sekolah dengan kurikulum 2006 menuju keadaan sekolah yang diinginkan yaitu sekolah dengan kurikulum tahun 2013.
Kepala sekolah menghadapi tantangan perubahan penerapan kurikulum 2013. Kesiapan yang perlu dicermati adalah mengenali elemen perubahan dengan sikap terbuka, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat mengelola perubahan sehingga menjadi sekolah yang adaptif terhadap perubahan.
Menjadi kepala sekolah profesional memerlukan daya adaptasi terhadap perubahan dengan menjadi kepala sekolah pembelajar, sehingga memandang perubahan kurikulum sebagai sesuatu yang seharusnya. Alasannya jelas, karena ilmu pengetahuan, teknologi, dan tantangan hidup terus berubah, maka kebutuhan siswa pun terus berubah menyesuaikan dengan kebutuhan jamannya. Lebih dari itu, pengalaman kita bekerja membuktikan bahwa apa yang dihasilkan terdahulu selalu memerlukan perbaikan, sehingga perubahan merupakan keharusan. Tugas kepala sekolah pada konteks ini amat strategis.
Kepala Sekolah menjadi penentu utama keberhasilan sekolahnya. Tugas memimpin perubahan ada di tangannya. Selain sebagai pendidik, pengajar, pelatih, pembimbing, ia juga berperan sebagai pemimpin pembelajaran, manajer perubahan, dan pengembang budaya sekolah. Dalam menyongsong pelaksanaan perubahan, kepala sekolah perlu belajar dari pengalaman menerapkan kurikulum 2006. Pengalaman dapat menunjukkan fakta keberhasilan maupun kegagalan. Berangkat dari pengalaman diri sendiri, maupun belajar dari pengalaman rekan sejawat, kepala sekolah dapat merancang rencana tindakan yang akan diperankannya dalam menerapkan kurikulum 2013.
Pemimpin yang mampu menyiapkan masa dengan menetapkan program untuk mengembangkan, mempertahankan, dan memobilitasi keterampilan mental utama yang mendefinisikan kecakapan berpikir para pemimpin. Bill Welter dan Jean Egman (2009:3) mengemukakan delapan kecakapan yang dapat diterapkan aku terapkan dalam lingkup yang sangat luas, dari organisasi berskala besar hingga perusahaan kewirausahaan kecil termasuk lingkup manajemen dan kepemimpinan sekolah:
ð       Pengamatan (Observing) Lingkungan tempat aku hidup dan beroperasi selalu berubah. Suatu hal yang alamiah bila aku memerhatikan dalam rangka mengkonfirmasi informasi tentang pandangan aku atas dunia, namun seringkali yang lebih penting lagi adalah hal-hal apa yang aku tidak ketahui. Apa yang Anda amati akhir-akhir ini
ð       Penalaran (Reasoning)
Orang selalu ingin tahu mengapa Anda mengusulkan satu tindakan dan tidak akan mengkuti arahan Anda sampai mereka memahami penjelasan Anda. apa jawaban Anda atas pertanyaan,”Mengapa”?
ð       Penggunaan Imajinasi (Imagining) Masa depan merupakan sesuatu yang tidak dapat aku ketahui, namun aku bisa membayangkannya....Apa yang berseleweran di benak Anda kini?
ð       Pertanyaan Asumsi (Challenging) Setiap organisasi bisnis dibangun dengan asumsi. Kapan terakhir kali Anda mempertanyakan assumsi dan menguji validitasnya.
ð       Pengambilan keputusan (Deciding). Hadapilah bahwa Anda dibayar untuk membuat atau mempengaruhi keputusan karena tindakan penting dalam progresnya. Apakah Anda terus berkembang atau malah jalan di tempat?
ð       Pembelajaran (Learning). Pengetahuan-pengetahuan masa lalu membawa Anda kepada posisi Anda sekarang. Ia bisa tidak efektif untuk membuat Anda bergerak ke muka. Apa yang seharusnya Anda ketahui tapi Anda tidak mengetahuinya?
ð       Upaya Memampukan (Enabling). Anda barangkali pintar, namun progresa menuntut sebuah upaya yang intensif untuk setiap organisasi. Apakah orang-orang diseakur Anda memiliki pengetahuan dan alat. Yang paling penting lagi, peluang untuk berkembang?
ð       Kemampuan Berefleksi. (Reflecting). Semua keputusan memiliki sisi buruknya. Aku perlu mengambil keputusan masa lalu dan memahami kelemahan-kelemahan yang dibuat dan konsekuensi dari keburukan itu. Aku juga perlu merefleksikan masa depan (envision) dan mempertimbangkan keburukan dari yang aku akan lakukan. Masalahnya adalah aku selalu kekurangan waktu dan kelihatan tidak pernah punya waktu untuk sekedar berpikir. Apakah Anda pernah mencoba berpikir ulang akhir-akhir ini?

BAB II PEMBAHASAN



BAB II
PEMBAHASAN

A.      Kepemimpinan Kepala Sekolah Sebagai Pelopor Perubahan
Tidak ada rumus sederhana yang dapat menjamin keberhasilan sebagai seorang pemimpin. Kepemimpinan adalah keterampilan yang membutuhkan kapasitas, dedikasi, dan pengalaman (yang berarti waktu untuk hidup dan belajar) demikian Robert P.Neuschel (2008:15) membuka bahasannya dalam buku The Servant Leader,”Pemimpin yang Melayani.” Namun kepala sekolah sebagai pelopor perubahan dalam mengembangkan potensi belajar peserta didik. Penulis memilih jalur yang lebih sederhana bahwa setiap anak layak hidup layak karena mereka terlahir membawa potensi sebagai aset untuk hidup bahagia. Setiap anak terlahir berbakat, cerdas, istimewa, unik dan berhak untuk bahagia.  Jolene L.Roehlkepartain & Nancy Leffert (2005:351) dalam buku “What Young Children Need to Succeed,” edisi terjemah mengatakan ada tiga langkah sederhana dalam mengembangkan aset anak-anak yaitu Pertama, pastikan anak-anak layak memperoleh perhatian dan kepedulian Anda; Kedua, membuat komitmen dimulai dari hal yang kecil dan sederhana; Ketiga, bertindak, putuskan untuk dilakukan.
“Kepemimpinan penting selama masa perubahan,” kalimat penting yang ditemukan dalam buku,”Kecakapan Berpikir Bagi Pemimpin,” karya Bill Welter dan Jean Egmon (2009:19-20) dan menurut mereka ada tiga sudut pandang tentang kepemimpinan yang dihormati yaitu, pertama, kepemimpinan ditunjukkan dengan tindakan bukan kata-kata; kedua, kepemimpinan ada dalam hubungan saling percaya dengan para pengikut; ketiga,pemimpin tahu tujuan mereka dan organisasi mereka.
Aset pemimpin yang paling penting menurut Bill Welter dan Jean Egman (2009) pada bagian sampul bukunya,”The Prepared Mind of a Leader” (Kecakapan Berpikir Bagi Pemimpin) adalah kemampuan mengantisipasi perubahan di lingkungan dan menyesuaikan diri dengan lingkungan itu secara cepat. Dari pernyataan Walter dan Egman kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa hal terpenting yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin adalah kemampuan yang efektif untuk berpikir fleksibel tentang sebuah perubahan baik dalam konteks transisi maupun inovasi. Kemampuan memilih strategi untuk mengatasi masalah dan pengambilan keputusan dalam menuju perubahan. Melakukan sedikit perubahan untuk menghasilkan perubahan yang berdampak lebih besar yakni perubahan mindset (sikap mental) dan mind scape serta prepared mind (siap pikiran dan mental). Bill Welter & Jean Egmon (2009:1) meyakini bahwa prepared mind bukan soal perubahan saja/kesempatan saja, tetapi ini soal persiapan yang disengaja.
Kualitas serta tingkat terbaik kinerja kepemimpinan menurut Robert P.Neuschel (2008:99) ada sejumlah elemen karakter dan kepribadian  yang bersifat bawaan dan mendasar seperti daya tahan, integritas, motivasi, keinginan, tanggung jawab, dan kepekaan alamiah terhadap orang lain. Inilah menurut Neuschel yang menjadi fondasi membangun kepemimpinan. Selanjutnya pada bagian akhir pembahasan pemimpin bawaan dan bentukan Neuschel (2008:103) menyatakan bahwa sedikit yang benar-benar merupakan pemimpin yang berbakat alami. Sebagian besar manajer/pemimpin dibentuk oleh peristiwa dan kebutuhan. Neuschel dalam analisis finalnya mengemukakan buah pikiran bahwa orang paling banyak belajar menjadi pemimpin dengan pemimpin dan sebagian besar tindakannya diciptakan sendiri.
Neuchel (2008:91) mensyaratkan pemimpin sebagai pengelola hebat atas perubahan dan keadaan yang tidak stabil. Pemimpin harus berada di depan untuk mendukung perubahan dan pertumbuhan serta menunjukkan jalan guna mengadakan perubahan. Ada dua persyaratan penting untuk membawa perubahan menurut Neuschel yaitu Pertama mengetahui persyaratan teknis dan kedua memahami tuntutan yang terkait dengan sikap dan motivasi untuk melaksanakan perubahan itu. Neuschel menekankan bahwa salah satu perubahan besar yang dihadapi oleh manajer/pemimpin adalah mampu mengenali dan membawa perubahan yang penting secara efektif.
Manajemen perubahan adalah proses pengelolaan sumber daya untuk membawa keadaan sekarang ini menuju keadaan baru yang diharapkan. Kalau dikaitkan dengan sekolah, maka dapat dinyatakan bahwa, manajemen perubahan sekolah adalah proses pengelolaan sumber daya sekolah untuk membawa keadaan sekolah sekarang, sekolah dengan kurikulum 2006 menuju keadaan sekolah yang diinginkan yaitu sekolah dengan kurikulum tahun 2013.
Kepala sekolah menghadapi tantangan perubahan penerapan kurikulum 2013. Kesiapan yang perlu dicermati adalah mengenali elemen perubahan dengan sikap terbuka, meningkatkan pengetahuan dan keterampilan agar dapat mengelola perubahan sehingga menjadi sekolah yang adaptif terhadap perubahan.
Menjadi kepala sekolah profesional memerlukan daya adaptasi terhadap perubahan dengan menjadi kepala sekolah pembelajar, sehingga memandang perubahan kurikulum sebagai sesuatu yang seharusnya. Alasannya jelas, karena ilmu pengetahuan, teknologi, dan tantangan hidup terus berubah, maka kebutuhan siswa pun terus berubah menyesuaikan dengan kebutuhan jamannya. Lebih dari itu, pengalaman kita bekerja membuktikan bahwa apa yang dihasilkan terdahulu selalu memerlukan perbaikan, sehingga perubahan merupakan keharusan. Tugas kepala sekolah pada konteks ini amat strategis.
Kepala Sekolah menjadi penentu utama keberhasilan sekolahnya. Tugas memimpin perubahan ada di tangannya. Selain sebagai pendidik, pengajar, pelatih, pembimbing, ia juga berperan sebagai pemimpin pembelajaran, manajer perubahan, dan pengembang budaya sekolah. Dalam menyongsong pelaksanaan perubahan, kepala sekolah perlu belajar dari pengalaman menerapkan kurikulum 2006. Pengalaman dapat menunjukkan fakta keberhasilan maupun kegagalan. Berangkat dari pengalaman diri sendiri, maupun belajar dari pengalaman rekan sejawat, kepala sekolah dapat merancang rencana tindakan yang akan diperankannya dalam menerapkan kurikulum 2013.
Pemimpin yang mampu menyiapkan masa dengan menetapkan program untuk mengembangkan, mempertahankan, dan memobilitasi keterampilan mental utama yang mendefinisikan kecakapan berpikir para pemimpin. Bill Welter dan Jean Egman (2009:3) mengemukakan delapan kecakapan yang dapat diterapkan aku terapkan dalam lingkup yang sangat luas, dari organisasi berskala besar hingga perusahaan kewirausahaan kecil termasuk lingkup manajemen dan kepemimpinan sekolah:
ð       Pengamatan (Observing) Lingkungan tempat aku hidup dan beroperasi selalu berubah. Suatu hal yang alamiah bila aku memerhatikan dalam rangka mengkonfirmasi informasi tentang pandangan aku atas dunia, namun seringkali yang lebih penting lagi adalah hal-hal apa yang aku tidak ketahui. Apa yang Anda amati akhir-akhir ini
ð       Penalaran (Reasoning)
Orang selalu ingin tahu mengapa Anda mengusulkan satu tindakan dan tidak akan mengkuti arahan Anda sampai mereka memahami penjelasan Anda. apa jawaban Anda atas pertanyaan,”Mengapa”?
ð       Penggunaan Imajinasi (Imagining) Masa depan merupakan sesuatu yang tidak dapat aku ketahui, namun aku bisa membayangkannya....Apa yang berseleweran di benak Anda kini?
ð       Pertanyaan Asumsi (Challenging) Setiap organisasi bisnis dibangun dengan asumsi. Kapan terakhir kali Anda mempertanyakan assumsi dan menguji validitasnya.
ð       Pengambilan keputusan (Deciding). Hadapilah bahwa Anda dibayar untuk membuat atau mempengaruhi keputusan karena tindakan penting dalam progresnya. Apakah Anda terus berkembang atau malah jalan di tempat?
ð       Pembelajaran (Learning). Pengetahuan-pengetahuan masa lalu membawa Anda kepada posisi Anda sekarang. Ia bisa tidak efektif untuk membuat Anda bergerak ke muka. Apa yang seharusnya Anda ketahui tapi Anda tidak mengetahuinya?
ð       Upaya Memampukan (Enabling). Anda barangkali pintar, namun progresa menuntut sebuah upaya yang intensif untuk setiap organisasi. Apakah orang-orang diseakur Anda memiliki pengetahuan dan alat. Yang paling penting lagi, peluang untuk berkembang?
ð       Kemampuan Berefleksi. (Reflecting). Semua keputusan memiliki sisi buruknya. Aku perlu mengambil keputusan masa lalu dan memahami kelemahan-kelemahan yang dibuat dan konsekuensi dari keburukan itu. Aku juga perlu merefleksikan masa depan (envision) dan mempertimbangkan keburukan dari yang aku akan lakukan. Masalahnya adalah aku selalu kekurangan waktu dan kelihatan tidak pernah punya waktu untuk sekedar berpikir. Apakah Anda pernah mencoba berpikir ulang akhir-akhir ini?